Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2012

Bunga Mawar Berduri Atau Duri Berbunga Mawar…?

“You can complain because roses have thorns, or you can rejoice because thorns have roses” ~Zig Ziglar
“Anda bisa mengeluh karena bunga mawar berduri, atau anda bisa bergirang karena duri memiliki bunga mawar.”
Slogan di atas datang dari Zig Ziglar, seorang pengarang buku yang sukses. Beliau juga adalah seorang pembicara tentang motivasi dan seorang ahli dibidang penjualan.
Red RoseZig Ziglar dengan slogan di atas mencoba menekankan konsep pemikiran secara positif (positive thinking). Dua orang dapat berpendapat yang jauh berbeda tentang suatu benda atau suatu kejadian yang sama. Yang satu bisa memusatkan perhatiannya ke hal-hal yang negatif yakni mengeluh tentang mawar yang berduri. Di sini yang menjadi pusat pemikiran justru durinya. Yang lain bisa memusatkan perhatiannya ke hal-hal yang justru positif yakni bergirang karena duri memiliki bunga mawar. Kali ini, yang menjadi pusat pemikiran adalah bunga mawarnya. Kedua-duanya membicarakan sebuah objek yang sama, tetapi memiliki sudut pandang yang jauh berbeda.
Dalah hidup, kemampuan untuk melihat segala sesuatu dari kaca mata yang positif adalah sangat penting untuk dimiliki dan terus dikembangkan oleh setiap orang yang ingin bertumbuh dalam hidupnya.
Kita dapat membayangkan apa saja yang mungkin didapat jika kita memusatkan perhatian kita pada hal-hal berikut ini:
1. Kesempatan daripada masalah.
2. Kekuatan/ kelebihan daripada kelemahan diri kita.
3. Apa yang dapat kita lakukan daripada apa yang tidak dapat anda lakukan.
Tentunya anda akan menemukan lebih banyak lagi hal-hal yang mungkin anda dapat dengan memilih untuk berpikir secara positif. Kata kunci di sini adalah “memilih“, karena kemampuan untuk melihat duri yang memiliki mawar bukan sesuatu talenta, melainkan sesuatu skil yang dapat dikembangkan, tidak masalah siapa kita atau apa yang kita kerjakan sekarang.
Maka dari itu, bersyukurlah karena duri pun memiliki bunga mawar yang indah! ~
Baca Selengkapnya →Bunga Mawar Berduri Atau Duri Berbunga Mawar…?

Jumat, 14 Oktober 2011

RAHASIA MAKNA IQRA'

 
 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق َ(1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَق ٍ(2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)
‘Iqra’ (bacalah) denqan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Iqra’ (bacalah), dan Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, sang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia Mengajarkan kepada manusia apa sang tidak diketahuinya. (Q. Al ‘Alaq: 1-5)

perintah “IQRA” bukanlah sekedar “membaca” dalam arti menggoyang lidah untuk melantunkan huruf demi huruf, kata demi kata dan kalimat demi kalimat, namun Inilah yang membedakan antara membaca yang bernilai ibadah dengan membaca dalam bentuk yang lain. perintah “IQRA” secara luas justru mengandung tiga pengertian dasar.

Pertama, pengertian secara tekstual yaitu membaca ayat-ayat Allah (tanda-tanda Ilahi) yang tertulis dalam Al-Quran (al Aayaat al Qauliyyah);  
 Aliif = “Allah”.
Qaaf = “Quran”.
Raa = “Rahmat”
 Dalam konteks ini, kata “IQRA” diartikan bahwa Allah swt menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad saw untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.
 "Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta.” (QS. Al-Anbiya: 107)
 
kedua, yaitu membaca ayat-ayat Allah (tanda-tanda Ialhi) yang tercipta dan terdapat di alam semesta; 
 Aliif = “Allah”
Qaaf = “qalam” (gejala alam)
Raa = “ra’a” (membaca dengan mata)
 Dalam konteks ini, kata “IQRA” diartikan bahwa alam semesta merupakan al-qalam (tanda-tanda) yang dianugerahkan Allah untuk dipahami secara visual (dibaca dengan mata) oleh manusia untuk selanjutnya dijadikan sebagai dasar sebuah ilmu pengetahuan.
 
ketiga, membaca ayat-ayat Allah (tanda-tanda Ilahi) yang terdapat pada diri pribadi setiap manusia.
 Aliif = “Allah”
Qaaf = “qalbu” (perasaan).
Raa = “ruuh” (jiwa).
 Nah, dalam konteks ini, kata “IQRA” ditafsirkan sebagai sebuah sistem yang terdapat di dalam setiap diri pribadi manusia yang harus bekerja secara bersinergi, selaras dan seimbang. Ketiga komponen inilah (yakni Allah, perasaan dan jiwa) yang disebut oleh sains modern sebagai realitas quantum diri manusia, sebuah realitas yang tidak kasat mata, namun menyimpan sebuah kekuatan dahsyat yang keberadaannya mampu merubah nasib manusia. Secara Khusus maknanya Selalu Menghadirkan Allah dalam Hati Kita/Mengingat Allah..
Pancaindra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba menempati posisi yang sangat penting bagi manusia dan sangat berguna untuk menangkap pesan tentang benda-benda dan keadaan yang ada di lingkungan sekelilingnya.
Akal, yang berfungsi pada tataran rasionalitas. Akal memiliki kemampuan untuk mengumpul data, menganalisa, mengolah dan membuat kesimpulan dari yang telah tertangkap dan diinformasikan oleh pancaindra.
Intuisi atau ilham didapat tanpa melalui proses penalaran tertentu. Tidak semua orang bisa mendapatkan kemampuan intuitif dan ilham, kecuali orang-orang yang melakukan musyahadah melalui kontemplasi (perenungan), ibadah dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.
Kemampuan dimiliki manusia sangat terbatas, baik bersifat fisik yang masih menyimpan misteri bagi manusia, apatah lagi yang bersifat non-fisik dan irrasional yang tidak mampu dicerna akal.
Wahyu membimbing manusia, agar tidak tertipu oleh indra dan akalnya yang terbatas. Wahyu memberikan kepastian agar akal tidak mengelana tanpa arab yang dapat membawa kepada ketersesatan dari kebenaran yang hakiki.
Wahyu adalah pengetahuan dan kebenaran tertinggi yang datang dari Dzat Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Tahu segala rahasia alam semesta ini.
Wahyu Allah adalah kebenaran yang bersifat mutlak.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.” (QS. Fushilat: 53)

Kata “IQRA” sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perintah “IQRA”, pada dasarnya merupakan himpunan dari huruf Aliif – Qaaf – Raa – Aliif, yang jika diringkas merupakan himpunan ketiga huruf Aliif, Qaaf dan Raa.

Pada huruf-huruf tersebut seakan-akan ada isyarat dan hakikat yang perlu kita pahami sehingga pada akhirnya kita akan mampu mengungkap rahasia yang tersimpan dibalik perintah “IQRA”.

Rahasia tersebut baru akan benar-benar terungkap jika saja kita mampu menghimpun rangkaian huruf demi huruf yang menyusun kata “IQRA” secara sempurna ke dalam tiga pengertian dasar perintah “IQRA” itu sendiri.

Allahu a ‘lam bishawab.
Wassalam
Baca Selengkapnya →RAHASIA MAKNA IQRA'